Mahfud MD Mengajak Masyarakat untuk Menjadi Lebih dari Sekadar Gelar

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud Md, menggugah pemikiran dengan menyatakan bahwa gelar sarjana tidak selalu mencerminkan tingkat intelektualitas seseorang. Dalam orasi ilmiahnya di Wisuda Periode 133 Universitas Negeri Padang, Mahfud menjelaskan bahwa gelar sarjana hanyalah sebuah tanda keahlian di bidang ilmu tertentu, bukan jaminan intelektualitas.

Dalam pandangan Mahfud, intelektualitas lebih dari sekadar gelar akademis. Dia mengutip tokoh bangsa, Mohammad Hatta, yang menekankan tanggung jawab kaum intelektual. Mahfud menyoroti pernyataan Hatta bahwa menjadi sarjana belum tentu berarti menjadi intelektual atau intelek.

Mahfud Md menyatakan bahwa status sarjana mencerminkan keahlian seseorang, sedangkan intelektualitas adalah kemuliaan moral. Menurutnya, kesuksesan seorang sarjana di masyarakat tergantung pada kemampuannya menjadikan dirinya sebagai intelektual, bukan hanya sebagai pemilik gelar akademis.

Sarjana dianggap Mahfud sebagai individu yang mungkin memiliki keahlian teknis untuk tugas-tugas tertentu, namun, dia menekankan bahwa gelar tersebut juga dapat menjadi alat untuk tindakan tidak etis. Mahfud memberikan contoh kasus di mana sarjana bidang hukum seperti pengacara, hakim, dan jaksa menggunakan pengetahuan hukum mereka untuk menipu orang dan akhirnya masuk penjara.

Baca juga:  Ganjar Pranowo Tidak Panik Terkait Laporan Mahfud Md ke Bawaslu

Lebih lanjut, Mahfud Md merujuk pada UUD alinea keempat yang menegaskan bahwa salah satu tujuan membentuk negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar mencerdaskan otak manusia. Menurutnya, mencerdaskan kehidupan mencakup mengembangkan otak dan memuliakan watak, sehingga menciptakan sikap-sikap intelektual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mahfud mengajak para wisudawan untuk tidak hanya bangga dengan gelar sarjana mereka, tetapi juga membangun landasan moral yang kuat. Baginya, kebenaran tidak hanya ditentukan oleh hukum tertulis, tetapi juga oleh bisikan hati nurani yang berakar pada nilai-nilai moral.

Rekomendasi untuk Anda

Advertisement

Terkait

Terbaru