Gus Miftah Bagi-Bagi Uang di Pamekasan, Bawaslu Ungkap Dugaan Money Politics

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, tengah menginvestigasi video viral yang menampilkan Miftah Maulana Habiburrahman, atau lebih dikenal sebagai Gus Miftah, sedang melakukan aksi bagi-bagi uang di sebuah gudang rokok. Gus Miftah, yang merupakan penceramah dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta, menjadi sorotan karena dukungannya terhadap salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden RI untuk Pemilu 2024.

Dalam video berdurasi 1 menit 29 detik yang beredar di berbagai platform media sosial, terlihat Gus Miftah membagikan uang kepada warga yang mengantre di sebuah ruangan. Adegan tersebut menampilkan kebanyakan perempuan yang antusias menerima uang sambil mencium tangan sang penceramah. Teriakan “Nomor dua, nomor dua” mengiringi aksi tersebut, sementara kamera menyorot kerumunan warga di bagian belakang yang antre dan memperlihatkan seseorang dengan baju hitam bergambar capres nomor urut 2.

Ketua Bawaslu Pamekasan, Sukma Umbara Tirta Firdaus, menyatakan bahwa pihaknya telah menggelar rapat internal dan berkoordinasi dengan Panitia Pengawas Kecamatan terkait peristiwa ini. Dugaan sementara menyebutkan bahwa aksi bagi-bagi uang Gus Miftah masuk kategori pidana pemilu, namun, hal ini masih memerlukan bukti yang cukup.

Baca juga:  Anies Baswedan Tanggapi Video C1 Tercoblos di Malaysia: Perlu Pengawasan Ketat Pada Pemilu 2024

Aksi tersebut turut melibatkan Khairul Umam alias ‘Haji Her,’ pemilik Perusahaan Rokok Bawang Mas. Gus Miftah membantah bahwa kehadirannya di Pamekasan adalah dalam rangka kampanye, melainkan karena undangan dari Haji Her yang juga merupakan pengusaha tembakau dan Ketua Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Se-Madura (P4TM). Video klarifikasi dari Gus Miftah menegaskan bahwa kegiatan ini bukan bagian dari Tim Kampanye Nasional (TKN) dan bukan pula bentuk politik uang.

Dalam klarifikasinya, Gus Miftah menegaskan bahwa Haji Her adalah seorang pengusaha dermawan yang rutin berbagi sedekah setiap hari. Ia menjelaskan bahwa saat diundang, ia diminta untuk turut serta dalam pembagian uang kepada masyarakat. Gus Miftah menepis anggapan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk money politics, dengan menyatakan bahwa jika itu money politic, mengapa dilakukan secara terang-terangan dan tidak terstruktur.

Kontroversi seputar video ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Sejumlah pertanyaan muncul terkait etika aksi bagi-bagi uang dalam konteks politik dan pemilu. Bagaimana pandangan publik terhadap kejadian ini? Apakah benar aksi ini masuk dalam kategori pelanggaran pemilu? Semua pertanyaan ini akan menjadi fokus pemeriksaan Bawaslu Pamekasan dalam menyelidiki peristiwa kontroversial ini.

Baca juga:  Anies Baswedan Janji Tekan Biaya Hidup dengan Strategi Pangan, Pengembangan Kota, dan Industrialisasi

Dalam menghadirkan klarifikasi Gus Miftah, Baba.co.id berusaha merinci kronologi kejadian dan menyoroti pandangan berbagai pihak terkait, dari Bawaslu hingga reaksi warganet di media sosial. Dengan demikian, pembaca dapat memahami secara lebih komprehensif mengenai kontroversi aksi bagi-bagi uang yang melibatkan tokoh publik di tengah-tengah persiapan menuju Pemilu 2024.

Rekomendasi untuk Anda

Advertisement

Terkait

Terbaru