Pohon Cinta di Pulau Kemaro: Legenda dan Keindahan yang Menggoda

Pulau Kemaro, menyimpan banyak kisah legenda dan keajaiban alam. Dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari Jembatan Ampera atau Plaza Benteng Kuto Besak, pulau ini menjadi saksi bisu dari berbagai cerita sejarah dan mitos yang terpatri dalam budaya lokal.

Salah satu cerita yang mencengangkan adalah legenda Pohon Cinta. Dikisahkan bahwa pohon ini menjadi simbol cinta abadi antara Siti Fatimah dan Tan Bun An pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Meskipun hingga kini belum ada bukti konkret yang mendukung cerita ini, namun keberadaannya telah menjadi bagian integral dari sejarah lisan masyarakat setempat. Banyak yang percaya bahwa Pohon Cinta di Pulau Kemaro membawa makna mendalam yang melampaui dimensi waktu.

Pohon Cinta memukau para pengunjung dengan bentuk fisiknya yang unik. Beringin ini dihiasi oleh akar-akar yang saling mengikat, menciptakan gambaran yang memesona. Menurut mitos yang berkembang, apabila sepasang kekasih mengukir namanya di pohon ini, hubungan mereka akan terus berkembang hingga ke jenjang pernikahan. Meskipun secara logika tidak ada hubungan langsung, banyak yang masih mempercayai dan mengamini mitos ini, sementara sebagian lainnya menilai hal tersebut sebagai bentuk syirik.

Baca juga:  Sekanak Sidewalk Palembang: Objek Wisata Menarik yang Bisa Anda Kunjungi

Pohon Cinta berdiri kokoh di belakang pagoda, namun popularitasnya menyebabkan kerusakan pada kulit pohon karena banyaknya pasangan yang mengabadikan cinta mereka di sana. Sebagai tindakan pencegahan, pengelola pulau memasang pagar keliling untuk melindungi kelestarian Pohon Cinta.

Namun, jauh dari polemik mitos dan tindakan pencegahan, Pohon Cinta telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita Palembang. Bukan hanya para pelancong lokal, tapi juga wisatawan mancanegara membanjiri pulau ini demi menyaksikan keunikan Pohon Cinta dan keindahan pagoda yang menjulang tinggi, yang telah mendapat reputasi di seluruh Indonesia.

Selain menjadi destinasi wisata, Pulau Kemaro juga sering dijadikan tempat berbagai kegiatan keagamaan dan budaya oleh masyarakat Tionghoa. Saat Cap Go Meh atau acara keagamaan lainnya, pulau ini menjadi saksi bisu persembahan kesakralan. Kelenteng SERIWIJAYA PALEMBANG dan beberapa pagoda kecil di sekitarnya menjadi tempat pemujaan dan refleksi spiritual.

Pulau Kemaro bukan sekadar gugusan tanah di tengah Sungai Musi; ia adalah pustaka sejarah hidup dan keindahan alam yang tak terlupakan. Begitu banyak kisah yang tertanam dalam setiap helai daun dan akar, menjadi kenangan abadi yang terus diperdengarkan oleh gemuruh sungai yang mengelilinginya.

Baca juga:  Keren! Wajah Baru Danau Opi Jakabaring Palembang

Rekomendasi untuk Anda

Advertisement

Terkait

Terbaru